Beri Saja Tanda Koma,
Mawar itu harum bukan, lebih harum malam itu saat aku pernah turun dari mobil mu kau berikan satu paket mawar merah.
Jalan itu halus bukan, dihiasi lampu taman dan lampu jalan, lebih indah saat aku jalan berdua denganmu.
Langit itu indah bukan, dengan berjuta bintang bertaburan menyinari jalan kita.
Jarak itu dekat bukan, saat kita masih ikhlas dilintasi bersama walau hanya lewat suara dan gambar.
Bukan, bukan untuk ku kenang. Tak perlu khawatir semua itu takkan ku kenang, hanya kuanggap sebagai bumbu yang bukan sekedar garam. bukan sekedar gula.
Tidak, tidak kurasa sakit, dan tidak kurasa sebagai sakit hati. dan tak pernah kukenal patah hati. aku tak pernah patah hatinya.
Ku anggap kita, pertemuan yang singkat, perkenalan yang sementara. Aku yang sudah kau percaya sebagai teman curhatmu dikala kau pernah sakit hati. Kecewa yang mendalammu kau curahkan kepadaku, aku paham, aku tau.
Merasa sebagai seseorang yang paling tersakiti, luka hatimu kulihat perlu sedikit obat merah. Kau buat aku sebagai obatmu, pernah. ya hanya pernah.
Walaupun tidak ada sedikit saja kata terimakasih yang kau ucapkan atas obat yang sudah kau berikan, menitihkan sedikit bekas harapan tanpa sesal.
Aku sih santai saja, aku terus berjalan, tidak berlari, aku tidak berlari lagi. aku berjalan saja, terus berjalan yang sedikit sedikit istirahat, tidak aku akhiri hanya aku jeda, jeda dengan koma,
Hingga pada saatnya nanti, kutemukkan titikku.
Mawar itu harum bukan, lebih harum malam itu saat aku pernah turun dari mobil mu kau berikan satu paket mawar merah.
Jalan itu halus bukan, dihiasi lampu taman dan lampu jalan, lebih indah saat aku jalan berdua denganmu.
Langit itu indah bukan, dengan berjuta bintang bertaburan menyinari jalan kita.
Jarak itu dekat bukan, saat kita masih ikhlas dilintasi bersama walau hanya lewat suara dan gambar.
Bukan, bukan untuk ku kenang. Tak perlu khawatir semua itu takkan ku kenang, hanya kuanggap sebagai bumbu yang bukan sekedar garam. bukan sekedar gula.
Tidak, tidak kurasa sakit, dan tidak kurasa sebagai sakit hati. dan tak pernah kukenal patah hati. aku tak pernah patah hatinya.
Ku anggap kita, pertemuan yang singkat, perkenalan yang sementara. Aku yang sudah kau percaya sebagai teman curhatmu dikala kau pernah sakit hati. Kecewa yang mendalammu kau curahkan kepadaku, aku paham, aku tau.
Merasa sebagai seseorang yang paling tersakiti, luka hatimu kulihat perlu sedikit obat merah. Kau buat aku sebagai obatmu, pernah. ya hanya pernah.
Walaupun tidak ada sedikit saja kata terimakasih yang kau ucapkan atas obat yang sudah kau berikan, menitihkan sedikit bekas harapan tanpa sesal.
Aku sih santai saja, aku terus berjalan, tidak berlari, aku tidak berlari lagi. aku berjalan saja, terus berjalan yang sedikit sedikit istirahat, tidak aku akhiri hanya aku jeda, jeda dengan koma,
Hingga pada saatnya nanti, kutemukkan titikku.


Komentar
Posting Komentar
Comment, Please!!